Jumat, 09 September 2016

New Wave Marketing



BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
New Wave Marketing merupakan penggantian istilah dari sembilan prinsip dasar pemasaran. Meskipun penggantian istilah tersebut dapat dikatakan bahwa New Wave Marketing lebih masuk akal pada saat ini seperti misalnya perkembangan Internet sebagai media komunikasi yang mengubah cara-cara pemasaran, meninggalkan media tradisional.
Sama seperti sembilan prinsip dasar pemasaran yang perlu penyesuaian terhadap dunia baru, demikian pula dengan dunia bisnis, perlu menerapkan konsep pemasaran New Wave Marketing untuk menghadapi tantangan perkembangan pasar yang dinamis. Adanya New Wave Marketing bukan serta merta meninggalkan Legacy Marketing yang dikoinkan oleh Hermawan Kartajaya.
Tetap pertahankan Legacy Marketing sebagai framework marketing, tetapi rubah cara yang vertikal menjadi horizontal. New Wave Marketing lebih cocok untuk perusahaan kecil yang tidak mampu menggelontorkan budget besar untuk high impact marketing seperti TV advertisement atau brand activation event. Tapi perusahaan besar pun juga bisa menerapkan model New Wave Marketing ini (MTV, Harley Davidson, adalah salah satu dari beberapa perusahaan yang dijadikan contoh dalam buku New Wave Marketing).

1.2        Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.            Bagaimana Segmentation is Communitization?
2.            Bagaimana Targeting is Confirmation?
3.            Bagaimana Positioning is Clarification?
4.            Bagaimana Differentiation is Codification?
5.            Bagaimana Product is Co-creation?
6.            Bagaimana Price is Currency?
7.            Bagaimana Place is Communal Activation?
8.            Bagaimana Promotion is Conversation?
9.            Bagaimana Selling is Commercialization?
10.        Bagaimana Brand is Character?
11.        Bagaimana Service is Care?
12.        Bagaimana Process is Collaboration?

1.3        Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1.            Untuk mengetahui Segmentation is Communitization
2.            Untuk mengetahui Targeting is Confirmation
3.            Untuk mengetahui a Positioning is Clarification
4.            Untuk mengetahui Differentiation is Codification
5.            Untuk mengetahui Product is Co-creation
6.            Untuk mengetahui Price is Currency
7.            Untuk mengetahui Place is Communal Activation
8.            Untuk mengetahui Promotion is Conversation
9.            Untuk mengetahui Selling is Commercialization
10.        Untuk mengetahui Brand is Character
11.        Untuk mengetahui Service is Care
12.        Untuk mengetahui Process is Collaboration

1.4        Manfaat Penulisan
1.            Mahasiswa dapat memahami tentang konsep pemasaran new wave marketing.
2.            Timbul semangat Mahasiswa dalam mempelajari lebih dalam pembahasan tentang konsep pemasaran new wave marketing dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1        Segmentation is Communitization
Segmentasi adalah sebuah seni mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada di pasar dengan melihat pasar secara kreatif.Segmentasi mengelompokkan pasar berdasarkan atribut yang sifatnya statis ataupun dinamis.Contoh jenis atribut statis adalah segmentasi yang berdasarkan variable geografi dan demografi. Sedangkan segmentasi berdasarkan atribut dinamis  ialah berdasarkan nilai-nilai psikografis, perilaku atau juga behavioral.
Di era New Wave seperti sekarang praktik segmentasi yaitu mengomunitisasikan konsumen sebagai sekelompok orang yang saling peduli satu sama lian, dan memiliki kesamaan purpose, values, dan identity. Communitization sebagai strategi, bukan sebagai taktik jadi komunitisasi adalah langkah pertama dalam Strategy.
Dengan demikian, segala keputusan strategis pemasaran harus pada akhirnya sejalan dengan kesejahteraan komunitas. Kalau komunitisasi ini tidak ditempatkan di level strategis alias hanya untuk tactical marketing semata, langkah pembentukan komunitas bisa jadi akan gagal.

2.2        Targeting is Confirmation
Setelah segmen-segmen teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah proses memilih target market yang tepat bagi produk dan jasa anda. Biasanya ada tiga kriteria konsep targeting.Yang pertama adalah memastikan bahwa segmen pasar yang dipilih cukup besar dan menguntungkan bagi perusahaan juga potensi pertumbuhan pasarnya.Kriteria kedua adalah strategi targeting harus didasarkan pada keunggulan kompetitif perusahaan yang bersangkutan.Kriteria ketiga adalah segmen pasar yang dijadikan sasaran itu harus didasarkan pada situasi persaingannya.
Langkah strategi awal yang dilakukan oleh perusahaan di era New Wave ini yaitu melakukan eksplorasi dan meninjau lebih dalam komunitas konsumen yang sekiranya pas untuk diajak berhubungan secara horizontal dan strategis. Setelah terlihat komunitas-komunitas konsumen yang ada, langkah selanjutnya adalah melakukan confirming, bukan targeting.

2.3        Positioning is Clarification
Ries-Trout mendefinisikan positioning sebagai menempatkan produk dan merek kita dalam benak pelanggan.Positioning menyangkut bagaimana membangun kepercayaan, keyakinan dan kompetensi bagi pelanggan. Tetapi dalam dunia New Wave dengan teknologi yang canggih dan dunia yang connected seperti sekarang, perusahaan tidak lagi memegang kendali brandnya. Persepsi suatu merek akan cepat kabur, apalagi yang namanya positioning statement sebuah merek dapat diciptakan oleh siapapun yang menyebarkannya lewat situs jejaring yang ada.
Dengan demikian, yang harus dilakukan bukanlah melakukan positioning lagi, tetapi clarification. Perusahaan bukan lagi memosisikan merek mereka kepada target market, namun melakukan klarifikasi bersama dan terhadap komunitas dimana ia berada. Dengan melakukan klarifikasi, berarti kita memperjelas persona atau karakter kita kepada komunitas yang sudah kita konfirmasikan sebelumnya.

2.4        Differentiation is Codification
Dalam konsep ini, perbedaan yang diharapkan harus bersifat lebih autentik.Dalam hal ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan.Pertama, harus berdasarkan orisinalitas. Kita adalah pencipta konsep perbedaan tersebut, bukan meniru keunikan yang dimiliki orang lain. Kedua, memiliki komitmen dan kontinuitas dalam menjalankannya, tidak setengah hati atau coba-coba.Ketiga, adalah benar-benar dipercaya dan diyakini oleh yang menjalankannya, bukan hanya berpura-pura.
Di era New Wave ini, menonjolkan diferensiasi saja tidak cukup. Untuk menang, pemasar harus dapat mengidentifikasi aspek darinya yang betul-betul berbeda sampai ke tingkat DNA bukan hanya di permukaan.Perusahaan juga harus mampu lebih terkoneksi dengan pelanggan sehingga mampu membuat produk yang benar-benar sangat personal bagi pelanggan sehingga tidak ada satu pun produk lainnya yang menyerupai produk tersebut.

2.5        Product is Co-creation
Tahapan-tahapan pengembangan produk adalah sebagai berikut: Pertama adalah penemuan ide (Discovery: idea generation and screening). Kedua adalah tahap pengembangan (Development: concept and product testing). Ketiga adalah tahap komersialisasi (Commercialization: product launchand evaluation) perusahaan akan memperkenalkan dan mengomunisasikan produk tersebut ke pasar.
Dalam era New Wave produk adalah kreasi bersama antara perusahaan dengan konsumennya. Dalam menerapkan co-creation, yang harus dipenuhi adalah identifikasi perilaku konsumen dalam membeli serta pilihlah konsumen terbaik yang akan dilibatkan dalam co-creation (re. co -creator). Jika sudah menemukan konsumen yang seperti ini, tentunya penciptaan nilai bersama yang dilakukan dengan konsumen akan terwujud berlimpah ruah.

2.6        Price is Currency
Di era New Wave, praktik pricing berubah karena tiga hal. Pertama, praktik perusahaan melakukan pricing akan lebih horizontal dengan melewati proses negosiasi dengan pelanggan.Kedua, karena adanya Connect, dinamika harga dan biaya akan semakina naik turun secara transparan. Ketiga, pemasar menjual produknya yang di co-create bersama komunitas pelanggan. Artinya, produk yang dijual bisa saja di-customizedsesuai dengan keinginan pelanggan dan bisa diciptakan sendiri oleh konsumen yang semakin komunal.
Karena ketiga hal itu harga menjadi kian relatif, layaknya currency yang nilai tukarnya ditentukan oleh lima hal yakni supply and demand, spekulasi, kekuatan fundamental, asumsi-asumsi, dan intervensi. Persis seperti dalam kondisi makro itulah harga sebuah produk akan bergerak bebas dari Nol sampai tak terhigga. From Free to Priceless!

2.7        Place is Communal Activation
Placedalam new wave marketing mix adalah communal activation. Karena produknya melalui proses co-create bersama dengan komunitas pelanggan untuk komunitas pula. Communal activation bisa dilakukan selam anda punya connecting platform yang sifatnya mobile, experiental dan juga sosial, yang ada di dunia online dan offline.
Perusahaan seperti Facebook, yang memiliki connecting platform berbasis komunitas jejaring sosial adalah, contoh bagaimana langkah pemasaran yang disalurkan lewat communal activation bisa terwujud.

2.8        Promotion is Conversation
Secara konsep, promosi terdiri atas lima elemen yang umum disebut sebagai marketing communications-mix, yang termasuk di antaranya iklan, public relations, personal selling,direct marketing dan sales promotion.
Pada dasarnya, pemasar juga paham bahwa langkah pemasaran akan menjadi lebih mudah apabila ia bisa masuk ke dalam media yang dikendalikan dan dimiliki oleh konsumen. Ataupun jika tidak masuk, mereka juga bisa membuat connecting platform tersendiri di mana ia bisa menjadi penghubung antara masing-masing konsumen. Semua hal itu, dilandasi bukan atas orientasi untuk berpromosi yang sifatnya membujuki, namun untuk “berbincang-bincang” dengan konsumen, dan menjadikan brand-nya sebagai ide bahan perbincangan antara satu konsumen dengan yang lain.


2.9        Selling is Commercialization
Di era New Wave, pemanfaatan network dalam proses penjualan menjadi semakin penting, sekaligus semakin mudah. Semakin penting karena peran rekomendasi menjadi semakin powerful. Rekomendasi dari pelanggan lain jauh lebih dipercaya ketimbang iklan di berbagai media serta rekomendasi lebih mudah mengalir melalui channel yang bernama network. Semakin mudah karena di era New Wave ini segala sesuatu lebih terhubung satu sama lain (connected).
Jadi setidaknya ada dua kompetensi utama yang harus dimiiki oleh seorang salesman di era New Wave ini. Pertama, kemampuan untuk memetakan dan membangun network yang efektif dalam mendukung proses penjualan (mapping and building effective network). Dan yang kedua, mengoptimalkan network tersebut untuk mendapatkan penjualan melalui rekomendasi (“commercializingthe network).

2.10    Brand is Character
Konsep dasar dari peralihan segitiga PDB (brand-positioning-differentiation) menuju Tripple C (character-clarification-codification) mengacu pada pola pikir New Wave dimana kebohongan tidak lagi dilakukan di era yang serba transparan dan saling terhubung. Pertama, anda tidak lagi bisa berbohong, karena informasi benar atau salah mudah didapat.Kedua, konsekuensi dari berbohong semakin parah.
Di era New Wave, Brand adalah karakter. Karakter ini adalah isi sesungguhnya (“the true self”) dari anda sedangkan brand adalah “the cover” atau bungkusnya. Dalam Tripple C dikatakan bahwa brand harus menjelma menjadi karakter yang berkarisma, sebuah karakter yang konsisten akan menjadi karismatik dan memancarkan aura.

2.11    Service is Care
Ada lima aspek service quality yang perlu diperhatikan, yaitu reliability, assurance, tangibles, empathy dan responsiveness. Inilah yang dalam new wave marketing disebut sebagai Care. Ini bukan sekadar service dengan nama yang berbeda, tapi ada perbedaan fundamental antara keduanya. Yang pertama, seperti disebutkan sebelumnya, fokusnya adalah pada “kebutuhan” konsumen, bukan “permintaan” mereka.Perbedaan kedua adalah mengenai bagaimana pelaksanaannya.Dalam service, perusahaan diharapkan untuk melebihi ekspektasi pelanggan. Dalam care fokusnya adalah memberikan layanan yang paling relevan dengan kebutuhan dan hasrat konsumen.
Care lebih fokus pada memberikan yang terbaik bagi konsumen sehingga mereka menjadi konsumen yang dengan sukarela merekomendasikan perusahaan tersebut ke orang lain. Disini, rekomendasi jauh lebih penting daripada repeat buying.

2.12    Process is Collaboration
Proses merupakan salah satu faktor pemasaran terpenting. Di dunia pemasaran, proses pada hakikatnya menentukan kualitas (quality), biaya (cost), dan pengiriman produk (delivery) dari perusahaan kepada pelanggannya. Kualitas produk dan jasa merupakan buah hati proses yang baik, dimulai dari produksi sampai delivery kepada pelaggan secaratepat waktu, efektif, dan biaya yang efisien.
Untuk terciptanya kualitas yang baik, biaya yang efisien, dan delivery yang tepat waktu, diperlukan sebuah proses value chain yang tertata dan dikelola secara baik. Penciptaan nilai bagi pelanggan terwujud karena adanya proses yang baik.
Di era New Wave, aktifitas perusahaan dalam mendesain, membeli, membuat, dan mengirim sebuah barang atau jasa, tentunya akan lebih horizontal karena didukung oleh kekuatan connectivity dari teknologi informasi. Aktifitas tersebut pun sudah semakin terintegrasi dan transparan, dimana perusahaan tidak lagi melihat supplier sebagai supplier, customer sebagai customer,dealer sebagai dealer, distributor sebagai distributor, tapi merekasemua adalah mitra, mitra yang memiliki prinsip dasar partnering, seperti vision, intimacy, dan impact yang selaras antarpihak untuk menghasilkan proses yang kolaboratif.

BAB III
PENUTUP
3.1        Kesimpulan
Segmentation is  Communitization, Terbentuknya suatu komunitas secara horizontal (dilakukan oleh orang yang setara, bukan oleh perusahaan). Terdapat kesamaan interest atau values antar anggota komunitas. Targeting is Confirmation, Mengkonfirm komunitas yang akan di join. Komunitas akan memberi keputusan apakah anggota baru dapat diterima atau tidak. Positioning is Clarification, Memperjelas persona atau karakter perusahaan kepada komunitas yang telah diconfirm sebelumnya. Karakter sebuah brand harus diclarify dalam benak konsumen. Differentiation is Codification, Mendiferensiasikan merek sampai ke tingkat “DNA”, atau membuat produk sepersonal mungkin sesuai dengan pelanggannya. Product is Co-creation, Pelanggan terlibat dalam proses pembuatan produk (bisa jadi tercipta produk yang berbeda antar konsumen dengan apa yang ditawarkan produsen), pemisahan komponen suatu produk dari berbagai distributor, pengembangan produk dari komunitas pelanggannya.
Price is Currency, Harga produk dari co-creation yang fleksibel, bukan suatu harga yang tetap tergantung berbagai factor. Place is Communal Activation, Mengaktifkan sebuah komunitas lewat para pemimpin atau aktivis komunitas itu. Orang-orang tersebut adalah orang yang mmapu memasarkan co-creation kepada para anggota komunitas lainnya. Promotion is Conversation, Promosi yang bersifat dua arah, peer to peer, dan many to many. Selling is Commercialization, Penjualan yang bersifat dua arah, terjadi pertukaran value antara perusahaan dan pelanggan. Perusahaan harus berupaya melakukan engagement dengan pelanggan sebagai pihak yang setara. Usahakan terjadi relasi jangka panjang yang berkesinambungan.“To win a heart share, do :  character, caring, collaboration”
Brand is Character, Walaupun kemasannya berganti-ganti, tetapi merek tetap bisa dikenali lewat karakter karena mengandung DNA yang khas. Service is Care, Memberikan lebih dari sekedar service, memperhatikan pelanggan sepenuh hati. Process is Collaboration, Berkolaborasi dengan perusahaan lain untuk memberikan value kepada pelanggan sehingga lebih kompetitif.

3.2        Saran
Inti dari kesemuanya yaitu setelah mengetahui tentang New Wave Marketing, diharapkan nantinya pelaku bisnis dapat menjalankan bisnisnya sesuai dengan 12C New Wave Marketing.













DAFTAR PUSTAKA


Minggu, 28 Agustus 2016

Proposal PKM-Kewirausahaan



Ringkasan
Tujuan diadakannya program usaha ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kreatifitas dalam menciptakan suatu hal yang baru, dapat berpikir panjang atau luas dalam menjalankan setiap kegiatan, serta membuka peluang atau kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang cukup besar dan melatih jiwa kewirausahaan.
Sekarang ini, bisnis kuliner menjadi salah satu bentuk bisnis yang menjanjikan. Berbagai macam jenis makanan bermunculan dengan ragam kreatifitas yang menarik. Bobolat (Bola-Bola Coklat) merupakan inovasi promosi kuliner yang terbuat dari biskuit yang mungkin bisa dapat membuat masyarakat merasakan cita rasa berbeda dari sebuah biskuit. Bobolat merupakan pilihan yang tepat, sebab jenis makanan ini sangat di gemari oleh anak-anak hingga dewasa.














BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang Masalah
Biskuit merupakan salah satu makanan yang banyak diminati oleh masyarakat. Selain murah dan enak, biskuit sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas. Biskuit merupakan makanan yang terbuat dari tepung terigu dengan penambahan bahan makanan lain dengan proses pemanasan dan pencetakan.
Mutu biskuit dapat dinilai melalui uji organoleptik seperti berdasarkan warna, aroma, rasa dan tekstur. Dalam segi manfaat kesehatan dari biskuit, biskuit dapat membantu dalam proses pencernaan. Untuk itu, Biskuit sangat disarankan sebagai pengganti snack yang berkarbohidrat tinggi karena fungsinya tersebut, dan lagi pula Biskuit dapat dikonsumsi sesering mungkin.
Selain biskuit, Coklat juga membantu melindungi jantung seperti memperbaiki mood. Antioksidan dalam coklat juga baik untuk kecantikan kulit.
Dari penjelasan diatas, inilah alasan kenapa dipilih produk Bobolat :
1.            Seluruh kalangan masyarakat sudah mengenal Biskuit dan Coklat dan pasti pernah mencobanya karena sudah ada cukup lama di Indonesia.
2.            Baik omset penjualan maupun produksi tergolong tinggi dengan bahan-bahan yang tidak mahal untuk pembuatannya.
3.            Peluang pasar terbuka lebar karena perkembangan perekonomian dan banyaknya masyarakat yang menginginkan makanan kuliner yang sehat.
4.            Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat banyak manfaat dalam kandungan biskuit dan coklat, sehingga konsumen tidak perlu takut mengalami gangguan pencernaan saat mengkonsumsi Bobolat.

1.2        Perumusan Masalah
Bobolat merupakan inovasi baru dalam penjualan Biskuit yang menyehatkan. Selain investasi yang dibutuhkan, untuk usaha ini terbilang sangat minim, usaha biskuit ini cocok juga dikembangkan di banyak segmen, tempat usaha yang strategis seperti pusat keramaian, sekolah, sampai dengan Kampus.

1.3        Tujuan
1.            Segi Inovatif
a.             Menciptakan inovasi baru tentang biskuit yang dapat membantu konsumen dalam memilih dan mengkonsumsi makanan yang memiliki kandungan menyehatkan bagi tubuh serta menambahkan wawasan pengetahuan tentang manfaatnya.
b.            Mengembangkan jiwa wirausaha dan melatih kemandirian dengan membuka usaha sendiri.
2.            Segi Produktif
Mampu mengubah pandangan masyarakat bahwa Coklat bukanlah sebuah produk yang hanya dapat menambah lemak dalam tubuh tetapi coklat dapat berfungsi menurunkan kolestrol dan tekanan darah dalam tubuh.

1.4        Luaran Yang Diharapkan
1.            Berguna untuk masyarakat
“Bobolat” diharapkan akan menjadi makanan yang menyehatkan karena dapat mengurangi kolesterol dan dapat melancarkan pencernaan.
2.            Dapat menambah lapangan pekerjaan
Dengan adanya inovasi baru ini dapat menambah lapangan kerja khususnya para mahasiswa untuk mencoba hal baru dalam kuliner makanan.

1.5        Kegunaan Produk
1.            Bagi mahasiswa, program ini dapat meningkatkan kreativitas dalam mengatasi masalah yang berkembang di masyarakat dan mencari solusi yang tepat serta inovasi terhadap dunia kuliner makanan dalam memenuhi kebutuhan dan selera masyarakat.
2.            Bagi pemerintah, program usaha ini diharapkan dapat membantu negara untuk mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kesehatan.
3.            Bagi masyarakat, “Bobolat” ini diharapkan dapat membantu memperbaiki nilai gizi dan kesehatan konsumsi makanan serta membuka lapangan pekerjaan baru.


BAB II
GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
2.1        Analisis Pasar (Strategi Pasar)
Pangsa pasar yang menjadi sasaran produsen “Bobolat” ini yaitu kalangan anak-anak sampai dewasa. “Bobolat” ini diharapkan tidak hanya tertuju pada satu tempat tertentu akan tetapi dapat menjangkau semua tempat namun tetap menjadi jajanan yang mewah. Metode STP digunakan untuk menganalisis dan menentukan Segmentasi, Target, dan Posisi produk di pasar.
a.             Segmentasi
“Bobolat” terdiri dari 2 variasi yaitu varian meses coklat dan varian meses warna-warni.
b.            Target
Anak-anak sekolah dan juga mahasiswa.
c.             Posisi
Memposisikan “Bobolat” sebagai jajanan yang diminati masyarakat.

2.2        Analisis Pesaing
Jajanan “Bobolat” ini merupakan jajanan yang sangat jarang kita jumpai, sehingga jajanan ini memiliki prospek yang cerah dan memiliki kesempatan untuk bersaing di pasar. Pesaing jajanan ini adalah jajanan pasar yang sudah lama kita jumpai. Jajanan yang sudah ada merupakan jajanan yang sudah memiliki penggemar. Kehadiran “Bobolat” menghadirkan keunikan dan inovasi baru yang diharapkan dapat menarik perhatian konsumen.

2.3        Rencana dan Strategi Pemasaran
a.             Rencana Pemasaran
Pengenalan “Bobolat” ke pelanggan dilakukan dengan menyebarkan dari mulut ke mulut dan juga mempromosikan “Bobolat” melalui media sosial seperti facebook, twitter, dsb.



b.            Strategi Pemasaran
1.            Placing (Penempatan)
Memasarkan “Bobolat” kesekolah-sekolah dan juga kampus.
2.            Promotion (Promosi)
Menyebarkan dari mulut ke mulut dan juga mempromosikan melalui media sosial seperti facebook, twitter, dsb.
3.            Price (Harga)
Harga “Bobolat” per-porsi yaitu Rp. 4.000






















BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1        Peralatan dan Bahan-Bahan
·               Blender
·               Biskuit
·               Susu kental manis
·               Mentega cair
·               Meses

3.2        Cara Pembuatan
Dalam pembuatan “Bobolat” Bola-Bola Coklat ini cukup mudah. Langkah awal haluskan biskuit menggunakan blender, kemudian campur dengan mentega cair. Tambahkan susu kental manis sedikit demi sedikit hingga menjadi adonan yang siap dibentuk. Bentuk adonan menjadi bulat-bulat atau menyerupai bola, gulingkan ke meses. Dinginkan dikulkas selama 30 menit, Bobolat pun siap disajikan.

3.3        Evaluasi Hasil Kegiatan
Untuk mengetahui dampak dari hasil kegiatan PKM-K ini terhadap sejauh mana keberhasilan program, perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi meliputi penerimaan konsumen melalui uji pasar (test market).









LAMPIRAN
A.       Identitas Diri
1
Nama Lengkap
Farniyanti H. Yusuf
2
Jenis Kelamin
Perempuan
3
Program Studi
Manajemen
4
NIM
931414001
5
Tempat dan Tanggal Lahir
Gorontalo, 04 Agustus 1997
6
E-mail
7
Nomor Telp/HP
+6285340512039

B.       Riwayat Pendidikan

SD
SMP
SMA
Nama Institusi
SDN 48 Kota Gorontalo
SMPN 5 Kota Gorontalo
SMAN 1 Kota Gorontalo
Jurusan
-
-
IPA
Tahun Masuk Lulus
2002-2008
2008-2011
2011-2014

C.       Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)
No
Nama Pertemuan Ilmiah / Seminar
Judul Artikel Ilmiah
Waktu dan Tempat
1



2



3








D.       Penghargaan Dalam 10 Tahun Terakhir (Dari Pemerintah, Asosiasi Dan Institusi Lainnya)
No
Jenis Penghargaan
Institusi Pemberian Penghargaan
Tahun
1



2



3




Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan Hibah PKM-Kewirausahaan.

Gorontalo, 23 Maret 2016


(Farniyanti H. Yusuf)